DUJIANGYAN - Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Tiongkok sudah menembus angka 12.000 jiwa. Sementara ribuan orang belum diketahui nasibnya dan 3,5 juta rumah rusak berat sehari setelah gempa bumi berkekuatan 7,8 skala Richter itu mengguncang Provinsi Sichuan Senin (12/5) siang waktu setempat.
Jumlah korban tewas itu menjadikan gempa Sinchuan sebagai bencana alam terdahsyat di Tiongkok dalam tiga dekade terakhir. Gempa terparah sebelumnya terjadi pada 1976 di Tangshan, Tiongkok Timur Laut, yang menewaskan 300.000 orang.
Media milik pemerintah Xinhua News Agency menyebutkan, jumlah korban tewas 12.000 jiwa hanya di Provinsi Sichuan. Diperkirakan, masih ada sekitar 18.645 orang yang terkubur reruntuhan bangunan di Mianyang, kota terdekat dengan pusat gempa. Media lokal The Sichuan Daily melaporkan dalam situsnya, 26.000 orang terluka dan tertimbun reruntuhan bangunan di kota Mianyang. Jumlah korban tewas dan luka itu dikhawatirkan bisa mencapai dua kali lipat karena beberapa daerah di pinggiran Sichuan yang juga hancur akibat gempa belum terjangkau regu penolong.
Perdana Menteri (PM) Wen Jiabao yang sudah berada di lokasi bencana sejak Senin malam terus berkeliling memantau kerja tim penyelamat korban. Orang kuat nomor dua di Tiongkok itu selalu membungkuk tiga kali (sebagai tanda berduka) di hadapan mayat yang telah dikeluarkan dari reruntuhan.
Bersama PM Wen, para petugas penolong dan tentara yang dikerahkan pemerintah bekerja siang dan malam mengangkat mayat-mayat dari sekolah, pabrik, dan rumah yang hancur. "Tidak satu menit pun boleh disia-siakan," kata Wen seperti terlihat dalam tayangan televisi. "Satu menit, satu detik, bisa berarti satu nyawa anak-anak," tegasnya. Hujan yang mengguyur sebagian Sichuan kemarin membuat gerak regu penolong untuk menyelamatkan korban yang masih di reruntuhan agak terhambat.
Sementara itu, Presiden Tiongkok Hu Jintao menegaskan, persoalan gempa akan menjadi prioritas pemerintahnya. Berbicara pada rapat Politbiro, dia mengatakan telah memerintahkan pengerahan segala upaya untuk menolong yang terluka.
Menyusul komitmen petinggi pemerintah, Wakil Menteri Urusan Sipil Luo Pingfei mengatakan, pemerintah telah mengalokasikan dana 360 juta yuan (Rp 479,964 miliar) untuk proses evakuasi korban di luar program recovery kota-kota di wilayah Sinchuan. Segera setelah gempa terjadi, Luo Pingfei menyebutkan 60.600 tenda langsung dikirimkan ke lokasi bencana. Dari data pemerintah, korban tewas sudah mencapai 11.921 jiwa.
Kawasan terparah, dari laporan yang diterima pemerintah, adalah Wenchuan, wilayah perbukitan dengan 112.000 penduduk yang berjarak 100 km dari Chengdu, ibu kota Sichuan. Sekitar 900 orang terkubur di bangunan tiga lantai yang hancur di Dujiangyan, Sichuan. "Di sebuah bangunan sekolah di Dujiangyan, di antara 420 siswa yang bersekolah, yang selamat tidak sampai 100 anak-anak," tulis Xinhua.
Hingga tadi malam, belum ada kabar dari tiga kota praja di kawasan otonomi Beichuan Qiang. Sinchuan merupakan salah satu daerah paling dekat dengan pusat gempa. Diperkirakan lebih dari 7.000 orang tewas. "Bangunan hancur mencapai 80 persen," ungkap televisi Sinchuan. Beichuan berpenduduk 161 ribu jiwa yang berarti satu di antara setiap 10 orang di tempat itu cedera atau tewas.
Selain mendatangkan nestapa ke seluruh Tiongkok, bencana gempa Senin (12/5) memberikan beberapa hikmah. Salah satunya adalah meredanya perseteruan antara pemerintah Tiongkok dan pemimpin simbolis perlawanan Tibet, Dalai Lama. Dari pengasingan, pemimpin spiritual Tibet itu menyampaikan rasa belasungkawa bagi para korban gempa bumi di Tiongkok. "Saya memanjatkan doa bagi mereka yang tewas dan cedera dalam bencana gempa bumi di Tiongkok," kata Dalai Lama.
Hubungan Dalai Lama dan pemerintah Tiongkok sempat memanas setelah Dalai Lama dituduh berada di balik kerusuhan Tibet bulan lalu yang menuntut kemerdekaan. Dalai Lama membantah semua tuduhan itu. Dia menjelaskan bahwa yang diinginkannya adalah mendukung otonomi penuh bagi warga Tibet di bawah pemerintahan Tiongkok, bukan kemerdekaan.
Mengikuti sikap pemimpinnya, parlemen Tibet di pengasingan menggelar persembahyangan khusus di kantor pusatnya di Dharmsala, India Utara. "Dalam masa tragedi nasional Tiongkok ini, perhatian kami tertuju kepada saudara-saudara kami rakyat Tiongkok. Kami mendoakan semoga rakyat Tiongkok segera pulih dari bencana dan kesulitan yang dialami," pernyataan parlemen Tibet.
Hikmah
Selain melunaknya sikap kelompok perlawanan Tibet, bencana gempa menguji kemampuan pemerintah Tiongkok dalam menangani bencana alam dahsyat, padahal hajatan besar Olimpiade tinggal dua bulan lagi. "Olimpiade merupakan simbol penting bagi upaya Tiongkok untuk mengukur kemampuan dirinya dengan negara-negara lain di dunia," kata Roger Des Forges, ahli sejarah Tiongkok dari Universitas Buffalo, Amerika Serikat.
Panitia Olimpiade memastikan bahwa gempa bumi dahsyat di kawasan barat daya tidak sampai merusak 31 infrastruktur Olimpiade di Beijing, termasuk Stadion "Sarang Burung" (Bird’s Nest) yang baru dibangun dengan anggaran USD 40 miliar. "Lokasi-lokasi penyelenggaraan Olimpiade tidak terpengaruh oleh gempa bumi tersebut," kata Sun Weide, juru bicara panitia pelaksana Olimpiade Beijing.
Seorang insinyur Stadion "Sarang Burung", Li Jiulin, mengatakan bahwa sarana tersebut mampu menahan guncangan gempa hingga berkekuatan 8 pada skala Richter. "Kami sudah mempertimbangkan faktor gempa saat bangunan-bangunan tersebut dibuat," klaim Sun. (AP/CNN/Rtr/kim)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar